Contoh Naskah Lomba Pidato

1

“MENGUASAI IPTEK MELALUI MEMBACA”

Yth. Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah TTS
Yth. Dewan Juri
Yth.Panitia Penyelenggara Lomba Berpidato
Yth. Bapak/Ibu pendamping peserta lomba
Serta teman-teman sekalian yang saya banggakan
Selamat siang, salam sejahtera untuk kita semua

Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala berkat dan karunia-Nya, kita dapat dipertemukan ditempat ini dalam keadaan sehat.
Perkenankanlah saya selaku peserta lomba untuk menyampaikan pidato saya yang bertemakan : Upaya Meningkatkan Minat Baca Masyarakat melalui Perpustakaan, dengan judul yang saya angkat adalah “Menguasai IPTEK melalui Membaca”.

Hadirin sekalian yang saya banggakan !
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau yang biasa disingkat IPTEK, dewasa ini tidak dapat dielakkan lagi. Hal ini Nampak nyata pada semakin menajamnya persaingan antar bangsa dalam bidang ekonomi maupun penguasaan teknologi, sehingga secara langsung maupun tidak langsung, menuntut kita, baik sebagai masyarakat maupun siswa/i agar mampu mengikuti perkembangan demi perkembangan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi itu sendiri.
Selain untuk dapat lebih menambah wawasan, sebagai manusia biasa yang tidak terlepas dari rasa ambisi dan tak mau kalah, mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi juga penting agar mampu terlepas dari kesan negatif orang lain yang pada umumnya dibahasakan dengan kata/kalimat seperti ‘Jadul’ atau ‘ketinggalan zaman’.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengetahui sejauh mana IPTEK telah berkembang. Selain dengan melihat atau mendengar sendiri melalui media elektronik dan melalui interaksi dengan sesame dalam keseharian kita, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi juga dapat diketahui lewat membaca.
Membaca haruslah menjadi kebutuhan utama bagi setiap manusia. Dengan membaca, kemampuan kita dalam bertutur kata akan semakin berkembang karena membaca merupakan hal positif yang dapat dilakukan setiap hari, ibarat kebutuhan makan dan minum yang akan terasa berat apabila tidak dilakukan walau Cuma sehari. Bukan hanya bertutur saja tetapi sikap, sifat dan tingkah laku kita pun bisa berubah. Dengan cara itu pula, kita akan semakin jauh dari hal-hal negatif yang merugikan.

Hadirin sekalian yang saya hormati !
Berbicara tentang membaca tidak akan terlepas dari yang namanya buku atau sumber bacaan lainnya, dan berbicara tentang buku, tentu akan erat kaitannya dengan perpustakaan sebagai gudang ilmu. Perpustakaan itu sendiri merupakan suatu tempat yang menyimpan, mengelolah dan memberikan layanan bahan pustaka baik berupa buku maupun non buku untuk digunakan oleh pemakai.
Namun, kehadiran perpustakaan belum bisa disadari secara penuh oleh sebagian besar masyarakat, salah satu alasannya yaitu atas dasar sebuah pemikiran aneh seperti ‘membaca tidak segampang kedengarannya’.
Kesadaran membaca dikalangan masyarakat Indonesia tergolong minim. Hal ini terbukti melalui sebuah penelitian yang akhirnya mengungkap perbandingan minat baca antara masyarakat Jepang dan masyarakat Indonesia yang faktanya, rata-rata di Jepang 1 orang membaca 4 buku, sedangkan di Indonesia, 10 orang membaca 1 buku.
Hal ini tentu saja sangat mengecewakan, sebagaimana diketahui bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada semakin maraknya penguasaan teknologi. Intinya, Indonesia pun tidak kalah bersaing dengan negara-negara yang lain.
Akan tetapi, kesadaran membaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kalangan pelajar dan mahasiswa/i yang entah membaca buku karena hasrat dari dalam diri mereka sendiri, maupun membaca buku karena mau tidak mau, seorang pelajar dan mahasiswa/i harus menyelesaikan tugas dan ujian yang diberikan oleh guru/dosen dengan nilai yang memuaskan.
Hal ini tentu saja tidak terjadi pada kalangan masyarakat biasa, khususnya masyarakat yang tidak lagi terikat segala sesuatu menyangkut mengenyam pendidikan. Akhirnya, minat baca dikalangan masyarakat biasa pun berkurang yang lama-kelamaan tentu akan menghilang sepenuhnya.
Berbagai faktor dapat dijadikan ‘tersangka’ utama kurangnya minat baca masyarakat Indonesia. Salah satunya yaitu bahan bacaan yang berkualitas masih sangat minim. Sebagai contoh, buku-buku mengenai hidroponik yaitu suatu cara pengembangbiakkan tumbuhan secara modern yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat TTS. Masyarakat cenderung menyukai bacaan yang menarik seperti buku resep membuat makanan yang kadang, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuatnyalah yang sulit ditemukan.

Hadirin yang saya kasihi !
Perpustakaan yang telah diketahui semua orang sebagai tempat yang ‘dipenuhi buku’ harus memiliki daya tarik tersendiri. Perpustakaan yang suka dikunjungi umumnya perpustakaan yang rapi dan bersih, serta memiliki pelayanan yang baik misalnya ramah kepada setiap pengunjung yang datang.
Perpustakaan yang baik juga harus memiliki peraturan atau tata tertib yang jelas dan yang tak kalah pentingnya ialah memiliki koleksi bahan pustaka yang lengkap yakni tidak hanya menyediakan bahan pustaka yang bersifat ilmu pengetahuan saja melainkan juga berupa sarana hiburan seperti novel, majalah, komik dan sebagainya. Hal ini tentu saja sangat diperlukan untuk mengoptimalkan pelayanan dan kualitas perpustakaan.
Jika kesemuanya telah dimiliki oleh tiap perpustakaan, dengan sendirinya minat masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan pun akan muncul. Bukan tidak mungkin perpustakaan menjadi salah satu tempat utama yang ingin dikunjungi setidaknya setiap waktu luang muncul.

Hadirin yang saya banggakan !
Seturut dengan semakin berkembangnya zaman, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pun berkembang pesat. Dengan seringnya kita membaca berbagai sumber bacaan mengenai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, penguasaannya pun akhirnya tergenggam erat dalam tangan. Contoh nyata : sebagian siswa sekolah belum begitu mengenal komputer/laptop, tetapi ketika masuk ke perpustakaan dan membaca berbagai bacaan mengenai pengoperasian komputer, mereka pun bisa. Bahkan hal yang sedaerhana saja : ketika seseorang membaca buku tentang ilmu kelistrikan, mereka pun dapat menciptakan barang-barang / mainan elektronik. Sumber bacaan yang dominannya terdapat di perpustakaan pada akhirnya mengharuskan seseorang untuk mengunjungi perpustakaan. Demikianlah hal tersebut menjelaskan hubungan perpustakaan dengan IPTEK yang sangat erat, yang hanya dapat diketahui lewat membaca.
Untuk itu, marilah kita bersama-sama mewujudkan masyarakat Indonesia yang ‘gemar membaca’ dengan menumbuhkan minat baca, paling tidak dimulai dari diri sendiri, sesama dalam keseharian kita, sedini mungkin. Ingat! Kita dapat menguasai IPTEK melalui membaca.
Demikian pidato saya, lebih kurangnya saya mohon maaf. Tuhan memberkati kita sekalian. Sekian dan terima kasih.